BelisMoRA
Beranda Blog Informasi Edukasi Galeri Tim Riset

Merajut Sains dan Spiritual: Tim Riset MoRA UIN Mataram Gelar FGD “Mora The Air Funds” Bahas Ekoteologi dan Kearifan Lokal Suku Sasak

Mataram— Tim Riset MoRA Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mora The Air Funds: Ekoteologi, Kearifan Lokal, dan Moderasi Beragama”. Kegiatan ini mengangkat fokus utama program EcoFaith Learning: Inovasi Pembelajaran Biologi Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Lokal untuk Penguatan Literasi Sains, Literasi Digital, dan Moderasi Beragama.

Dalam pemaparan materi sesi pertama yaitu L. Satria Wangsa menegaskan bahwa ekoteologi dan kearifan lokal merupakan konsep yang memadukan nilai spiritual, budaya, serta etika untuk merawat lingkungan. Melalui pendekatan ini, alam dipandang bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan ruang sakral yang wajib dijaga kelestariannya. Diskusi mendalam dalam FGD tersebut menggarisbawahi pentingnya pilar-pilar kearifan lokal Suku Sasak dalam menjaga ekosistem. Hal tersebut diwujudkan melalui sistem hukum adat dan perlindungan alam seperti penerapan Awig-Awig sebagai norma yang mengatur sanksi bagi perusak lingkungan serta kawasan Kemalikatau hutan dan mata air yang dikeramatkan agar efektif menjaga daerah resapan air dari deforestasi.

Selain itu, tradisi spiritual dan siklus alam yang sarat makna ekoteologi hidup di Gumi Sasak, mulai dari tradisi Bau Nyale, upacara agraris Ngayu-Ayu di Sembalun, Selamat OlorPerang Timbung di Pejanggik, hingga Maulid Adat Bayan, turut merefleksikan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Masyarakat Sasak juga memegang teguh falsafah hidup keharmonisan ekologis melalui peribahasa tradisional (sesenggak“Aiq meneng, tunjung tilah, empaq bau” yang bermakna bahwa manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus merusak keharmonisan lingkungan. Integrasi kearifan lokal ini terbukti memperkuat resiliensi masyarakat dalam mitigasi bencana modern, seperti ketahanan struktur rumah adat tradisional (Bale Tani) saat menghadapi gempa bumi serta terjaganya pasokan air bersih melalui perlindungan hutan adat di Bayan dan Sesaot. Melalui inovasi pembelajaran EcoFaith Learning yang dibahas dalam FGD ini, nilai-nilai ekoteologi dan kearifan lokal diharapkan dapat diintegrasikan secara nyata ke dalam dunia pendidikan untuk memperkuat literasi sains, literasi digital, serta moderasi beragama di tengah masyarakat.

Kembali ke Beranda Lihat Materi Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *