BelisMoRA
Beranda Blog Informasi Edukasi Galeri Tim Riset

Mengintegrasikan Ekoteologi, Kearifan Lokal, dan Literasi Digital: Tim Riset MoRA UIN Mataram Sukses Gelar FGD “Mora The Air Funds”

Mataram, 24 Agustus 2026 — Tim Riset MoRA Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mora The Air Funds: Ekoteologi, Kearifan Lokal, dan Moderasi Beragama” pada Senin, 24 Agustus 2026. Mengangkat fokus utama program EcoFaith Learning: Inovasi Pembelajaran Biologi Berbasis Ekoteologi dan Kearifan Lokal untuk Penguatan Literasi Sains, Literasi Digital, dan Moderasi Beragama, kegiatan ini menghadirkan perpaduan komprehensif antara nilai spiritual keagamaan, pelestarian lingkungan, dan transformasi digital pendidikan.

Acara pembukaan diawali dengan sambutan dari disampaikan oleh Ketua Tim Peneliti, Dr. Nining Purwati, M.Pd., yang memaparkan urgensi pengembangan model pembelajaran inovatif guna menjawab tantangan zaman serta memperkuat literasi dan karakter peserta didik di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Sambutan selanjutnya perwakilan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Mataram, Prof. Dr. H. Akhmad Asyari, M.Pd., yang menekankan pentingnya penguatan mutu akademik berbasis integrasi keilmuan dan nilai moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi.

Sinergi Spiritual, Ekologi, dan Kearifan Lokal

Memasuki sesi materi pertama, L. Satria Wangsa memaparkan bahwa ekoteologi dan kearifan lokal merupakan konsep yang memadukan nilai spiritual, budaya, serta etika untuk merawat lingkungan. Melalui pendekatan ini, alam dipandang bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan ruang sakral yang wajib dijaga kelestariannya. Diskusi mendalam menggarisbawahi pilar-pilar kearifan lokal Suku Sasak dalam menjaga ekosistem, seperti penerapan Awig-Awig sebagai norma adat dan perlindungan kawasan sakral Kemalik yang efektif mencegah deforestasi di daerah resapan air. Berbagai tradisi spiritual seperti Bau NyaleNgayu-Ayu di Sembalun, Selamat OlorPerang Timbung di Pejanggik, hingga Maulid Adat Bayan turut merefleksikan keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai ini diperkuat oleh falsafah hidup sesenggak “Aiq meneng, tunjung tilah, empaq bau” serta terbukti menjadi tameng tangguh dalam mitigasi bencana modern, seperti ketahanan struktur rumah adat Bale Tani saat menghadapi gempa.

Dari Tauhid ke Tadbir Bumi

Paparan mendalam pada sesi berikutnya dilanjutkan oleh pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, Hasanain Juaini, yang mengusung sub-tema “Dari Tauhid ke Tadbir Bumi: Inovasi Pembelajaran Biologi Berbasis Ekoteologi, Kearifan Lokal, dan Moderasi Beragama”. Ia menegaskan bahwa krisis ekologis global saat ini berakar kuat dari krisis cara pandang di dunia pendidikan, di mana manusia kerap belajar tentang alam secara teknis namun abai hidup secara benar di dalamnya. Kerusakan lingkungan lahir dari paradigma keliru seperti antroposentrisme absolut, mekanisme-materialisme, ekonomisme-konsumerisme, hingga sikap fatalistik. Sebagai solusi, ia menawarkan kompas wahyu yang berpilar pada Tauhid, Khalifah, Amanah, Mīzān (keseimbangan), dan Hisāb (pertanggungjawaban), serta mengarahkan agar seluruh ekosistem lembaga pendidikan—mulai dari kurikulum, budaya harian, hingga tata kelola—bertransformasi menjadi laboratorium hidup yang menanamkan moderasi beragama (wasatiyyah ekologis).

Penguatan Literasi Digital Berbasis Produksi Pengetahuan

Sesi strategis ketiga diisi oleh Dr. Baiq Sri Handayani, M.Pd., yang mengupas tuntas strategi membelajarkan literasi digital dalam pembelajaran biologi bagi siswa SMA di kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Berdasarkan analisis kebutuhan, terungkap adanya dilema konsumen digital di mana siswa sangat fasih menggunakan media sosial dan berkomunikasi, namun masih tertinggal pada aspek penciptaan konten (mencipta), literasi data, serta kaitan kompetensi dengan karier. Melalui tangga kompetensi produksi konten 4R (Reuse, Remix, Redesign, Originate) serta kerangka etika digital berbasis ekoteologi (Tauhid, Mīzān, dan ‘Adl), siswa dibimbing untuk mengolah isu-isu ekologis lokal dan tradisi masyarakat menjadi produk digital autentik seperti infografis data, katalog digital, video dokumenter, hingga peta cerita (story map).

Melalui penyelenggaraan FGD ini, UIN Mataram berharap model pembelajaran EcoFaith Learning dapat diintegrasikan secara luas ke dalam kurikulum sains di sekolah maupun perguruan tinggi, guna melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara digital dan sains, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral ekologis serta komitmen kuat terhadap moderasi beragama.

Kembali ke Beranda Lihat Materi Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *