BelisMoRA
Beranda Blog Informasi Edukasi Galeri Tim Riset

Dari Tauhid ke Tadbir Bumi: Tim Riset MoRA UIN Mataram Bedah Inovasi Pembelajaran “EcoFaith Learning” Berbasis Ekoteologi

Mataram — Rangkaian kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mora The Air Funds: Ekoteologi, Kearifan Lokal, dan Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh Tim Riset MoRA Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pada Senin, 24 Agustus 2026, menghadirkan paparan mendalam dari pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain NWDI, Hasanain Juaini sebagai pemateri sesi ke dua dalam kegiatan tersebut. Sesi ini menyoroti bagaimana krisis ekologis global saat ini berakar kuat dari krisis cara pandang di dunia pendidikan.

Dalam pemaparannya, Hasanain Juaini menegaskan bahwa manusia selama ini banyak belajar tentang alam secara teknis, namun belum sepenuhnya belajar bagaimana hidup secara benar dan beradab di dalamnya. Kerusakan lingkungan dinilai lahir dari paradigma keliru seperti antroposentrisme absolut yang memandang manusia sebagai pemilik mutlak alam, pandangan mekanistik-materialisme yang menganggap alam sekadar benda tanpa makna, ekonomisme-konsumerisme yang menjadikan laba sebagai ukuran segala hal, hingga sikap fatalisme yang menganggap kerusakan lingkungan sebagai takdir belaka.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menawarkan kerangka kompas wahyu yang dibangun atas lima pilar etika ekologis Islam, yakni tauhid sebagai pusat nilai, kedudukan manusia sebagai khalifah dan penanggung jawab, amanah atas nikmat titipan, mīzān untuk menjaga keseimbangan agar tidak melampaui batas, serta hisāb sebagai bentuk audit pertanggungjawaban atas setiap tindakan. Konsep EcoFaith Learning kemudian diterjemahkan sebagai metode integral yang menyatukan iman, ilmu, dan amal (tadbir), di mana kehidupan dibaca sebagai āyāt Allah, hukum alam dipahami melalui sains, dan pengelolaannya dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi keberlangsungan generasi mendatang.

Pendekatan ini juga diperkuat dengan memadukan sanad intelektual Islam klasik dari para ulama dan pemikir besar seperti Seyyed Hossein Nasr terkait sakralitas alam, Ismail al-Faruqi dalam sintesis keilmuan, serta Syed Naquib al-Attas mengenai pandangan hidup (worldview) dan adab, yang diselaraskan dengan teori sistem modern. Desain pembelajaran dirancang secara bersiklus mulai dari observasi masalah nyata, analisis sains, pemaknaan nilai wahyu, aksi terukur, hingga audit dampak. Lebih lanjut, pendekatan ini menuntut agar seluruh ekosistem lembaga pendidikan—mulai dari kurikulum, budaya harian mengelola air dan sampah, laboratorium alam, tata kelola, hingga keterlibatan masyarakat—bertransformasi menjadi laboratorium hidup yang menanamkan moderasi beragama (wasatiyyah ekologis) secara nyata.

“Bumi bukan gudang benda mati yang bebas dikuras. Ia adalah ayat Allah, amanah bersama, dan warisan bagi generasi yang belum lahir. Membaca kehidupan sebagai ayat Allah, memahami hukumnya dengan ilmu, lalu mengelolanya sebagai amanah.” — Hasanain Jauaini

Kembali ke Beranda Lihat Materi Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *